Unpad Menuju Student Governance

11 08 2009

Mahasiswa memiliki perspektif yang luas dan jauh ke depan atas tata pemerintahan kampus yang baik dan pembangunan potensi kampus. Namun untuk mewujudkannya, diperlukan kepekaan akan apa saja yang dibutuhkan untuk mewujudkan perkembangan tersebut. Selain itu, mahasiswa juga harus memiliki pemahaman atas kompleksitas kesejarahan, budaya, dan sosial yang menjadi dasar bagi perspektif tersebut.

Langkah utama mengawali suatu perubahan pada suatu tatanan kampus adalah bagaimana mahasiswa yang tergabung dalam sebuah organisasi mengenali sejarah mengapa organisasi tersebut dibentuk. Hal tersebut akan menumbuhkan langkah dan semangat bagi para pemimpin untuk membuat catatan baru perjuangan mahasiswa bagi rakyat. Frame work seorang mahasiswa idealis dilihat dari seberapa besar ia dapat memberikan kontribusi bagi mahasiswa lain dan bagi rakyat. Di kampus kita ini, Universitas Padjadjaran yang notabene merupakan salah satu universitas terbaik di Indonesia terdapat banyak organisasi kemahasiswaan yang dapat memfasilitasi kreatifitas dan minat bakat mahasiswanya. Organisasi kemahasiswaan itu secara umum ternaung dalam suatu wadah yang disebut sebagai Keluarga Mahasiswa Universitas Padjadjaran (Kema Unpad). Sejarah awalnya berdiri Kema Unpad yang dirintis oleh para pendahulu kita merupakan titik awal terciptanya Student Governance di Unpad. Tata kelola organisasi kemahasiswaan di Universitas Padjadjaran kini secara bertahap akan terealisasi bila adanya hubungan dinamis yang harmonis antar lembaga kemahasiswaan di Unpad. Tidak dipungkiri, berbagai warna yang mencirikan setiap elemen di Unpad ini, dan tidak mustahil pula apabila kita dapat mewujudkan warna-warna tersebut dalam satu kesatuan yang indah, layaknya pelangi. Salah satu sarana untuk mencapai hal tersebut maka terwujudlah Organisasi Kemahasiswaan Kema Unpad.

Kema Unpad terdiri dari Kongres Kema Unpad sebagai pemegang kekuasaan tertinggi dalam kehidupan kemahasiswaan di Universitas Padjadjaran. Kemudian Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM Kema Unpad) sebagai lembaga legislatifnya, dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM Kema Unpad) yang berperan sebagai eksekutor atau menjalankan fungsi sebagai lembaga eksekutif. Selain itu, Kema Unpad juga mencakup lembaga-lembaga yang sifatnya keminatan, lembaga tingkat fakultas, dan tingkat jurusan, lembaga-lembaga tersebut adalah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), BEM Fakultas, BPM Fakultas, dan Himpunan Mahasiswa Jurusan yang terdiri dari Badan Pengurus Harian (BPH) dan Badan Perwakilan Angkatannya (BPA). Namun kondisinya, di lapangan sistem seperti ini tidak begitu saja diterima oleh semua pihak. Baik dari pihak birokrat kampus, maupun dari pihak mahasiswa itu sendiri. Dari pihak mahasiswa sendiri sistem seperti ini menimbulkan pro dan kontra yang cukup berkepanjangan. Hal ini dikarenakan sistem Kema di Unpad ini masih memiliki berbagai kekurangan atau kendala. Kendala utamanya adalah tidak adanya hubungan yang jelas antara lembaga yang satu dengan lembaga lainya, misalnya antara BEM Universitas dengan BEM Fakultas. Hal ini dapat terlihat dari penamaan ketua lembaga. Ketidakjelasan ini menimbulkan perbedaan persepsi dari masing-masing lembaga dan individu. Pada akhirnya, setiap lembaga maupun individu memiliki penafsirannya masing-masing mengenai pola hubungan antar lembaga di Kema Unpad ini. Hal inilah yang menimbulkan pro dan kontra tentang keberadaan Kema Unpad sekarang ini.

Kendala lainnya adalah timbulnya ego-ego lembaga di Kema Unpad. Setiap lembaga ingin menonjolkan eksistensinya masing-masing. Hal ini dapat dilihat dari pelaksanaan program kerja. Saai ini, yang lebih terlihat adalah nama lembaga masing-masing. Bukan Unpad secara keseluruhan. Padahal jika dicermati lebih mendalam, sebenarnya target yang ingin dicapai rata-rata sama. Sebagai contoh, hampir setiap lembaga kemahasiswaan di Unpad memiliki program kerja donor darah, namun dalam pelaksanaannya masing-masing lembaga melaksanakannya secara terpisah sehingga hasil yang dicapai—misalnya dari segi capaian peserta—kurang maksimal, padahal apabila disinergiskan dengan lembaga kemahasiswaan lain dengan membawa nama Kema Unpad—tidak lagi membawa nama masing-masing fakultas—tentunya hasil yang dicapai akan lebih maksimal. Adapun pendukung proses tersebut adalah pengetahuan dan kepahaman seluruh elemen mahasiswa mengenai konsep dan praktik mengenai pemberlakuan student governance di lingkungan Unpad. Organisasi kemahasiswaan itu secara umum ternaung dalam suatu wadah yaitu Keluarga Mahasiswa Universitas Padjadjaran yang disebut Kema Unpad. Untuk itulah perlu diadakannya program pencerdasan kepada seluruh elemen mahasiswa di Unpad dengan memberikan kajian komprehensif mengenai bentukan konsep Student Governance yang baik (Good Student Governance). Hal tersebut bertujuan untuk memberikan kajian berguna demi pembentukan pemerintahan mahasiswa yang berlaku di Universitas Padjadjaran.

Apa itu Stugov (Student Governance)? Tidak ada yang menjadi definisi tegas mengenai stugov ini. Namun bila ditilik dari konsep good governance pemerintahan Indonesia, kita bisa langsung mendapatkan definisi tersendiri mengenai stugov. Student Governance di lingkungan Universitas Padjadjaran adalah tata kelola organisasi kemahasiswaan di lingkungan Unpad yang bersifat representative, akuntable, efektif dan efisien serta dijalankan secara profesional. Bagaimana penerapan stugov di Unpad? Penerapan di Unpad sendiri baru dilakukan akhir tahun kemarin. Padahal pada pewacanaannya, sudah hampir lima tahun Kemahasiswaan Unpad ingin menerapkan Stugov. Dengan bentuk organisasi yang federasi terciptanya BAK (Badan Audit Keuangan) dan pola hubungan BAK yang kordinatif, pembenahan hubungan, dan strukturisasi Kema Unpad yang instruksi dalam pengadaan kegiatan. Namun, kordinatif dalam pelaksanaan, menciptakan mekanisme keuangan yang blockgrant, sinkronisasi proker (program kerja), periodeisasi, dan lain-lain. Keinginan bagi perintis dan kawan-kawan yang ada di seluruh fakultas adalah penerapan stugov tidak akan mematikan kreatifitas mahasiswa. Sistem organisasi dengan konsep seperti ini akan memberikan pemandangan yang luas bagi tiap lembaga yang ada di Unpad secara lebih luas. Silaturrahmi yang selalu dijalin akan lebih erat, keuangan, dan dana kemahasiswaan dapat digunakan secara lebih profesional, dan pola kaderisasi yang jelas untuk keutuhan serta perbaikan Kema Unpad. Satu hal yang perlu dipahami adalah, semua yang dilakukan ini tidak lain untuk menjadikan sesuatu yang lebih baik, kita (Keluarga Mahasiswa Unpad) menjadi jelas di mata setiap elemen, mempunyai tata kelola organisasi yang rapi, dan untuk Unpad yang lebih baik.

Afifah Hifdzillah
Anggota Komisi I BPM Kema Unpad 2009





jadi, mulailah dengan SADAR…*

28 07 2009

Melihat situasi kampus terkadang membuat kita tergelitik geli, kenapa? Bisa kita lihat kalau kampus ini, Universitas Padjadjaran yang terbagi kedalam beberapa kampus terkesan sangat menjunjung tinggi keberagaman dan dengan keberagamnnya itu sendiri membuat Unpad bagaikan kapas dimana angin seenaknya untuk menerbangkannya. Dalam segala bidang Unpad yang dibagi kedalam partikel-partikel kecil – universitas, fakultas, jurusan, dan seterusnya – sangat kuat akan kultur sehingga partikel-partikel tersebut akan dan selalu berlomba demi prestise terbaik. Tidak salah juga dan hal ini memang fitrahnya, tetapi pengejaran-pengejaran prestise tersebut perlu diberi segmentasi hanya dalam ruang lingkup kampus tidak perlu untuk dibawa dan diekspos sebagai suatu kelebihan satu partikel tertentu, tetapi kekurangan Unpad sebagai suatu kesatuan.

Hal diatas terjadi dalam realitas kampus di Unpad pada saat sekarang ini. Salah satu bagian dari tubuh Unpad yang mengalami hal ini adalah Lembaga Kemahasiswaan dan lebih dikenal dengan nama Keluarga Mahasiswa Universitas Padjadjaran yang terbentuk dari hasil proses dinamisasi kampus yang panjang dan melelahkan. Terbentuknya Kema merupakan inisiatif dari mahasiswa agar dalam dunia kampus terdapat suatu lembaga yang menaungi kepentingan mahasiswa seperti menyalurkan minat dan bakat mahasiswa Unpad dalam berbagai bidang, serta mengakomodir berbagai kebutuhan mahasiswa Unpad yang lainnya.

Sebenarnya apa yang sedang terjadi dalam dinamisasi dunia kampus di Unpad? Mari kita tilik lagi penyebab-penyebab yang menjadikan Unpad dengan unsur-unsur didalamnya bak kapas yang dengan mudahnya diterbangkan oleh angin. Pertama, secara kultural Unpad bisa disebut kampus feodal dan ke-egocentris-an yang kuat, kenapa demikian?realitasnya bisa kita lihat dari perlakuan yang strata dan tingkatannya lebih tinggi kepada yang ada dibawahnya, seperti dalam kebijakan kampus yang selalu diputuskan secara sepihak tanpa melibatkan unsur-unsur civitas akademika yang ada di Unpad. Dalam jangka lama realitas ini akan tertancap kuat sehingga dalam dunia kemahasiswaan perlahan secara emosi kolektif akhirnya menumbuhkan bibit-bibit apatisme dan jadinya hanya individualitas yang akan terlihat gamblang dalam dunia kampus. Selain itu, adanya kekuatan yang memiliki keegoan yang kuat dan merasa superior menjadi indikator dimana tampilan Unpad akan sangat terlihat rapuh. Padahal secara kuantitas, Unpad merupakan kampus yang memiliki student body yang besar. Logikanya, semakin besar jumlah akan semakin kuat kekuatannya, tapi fakta lapangan berbicara lain. Kenyataannya, kalau boleh dibilang, Unpad dalam konteks Keluarga Mahasiswa saat ini digerogoti oleh kekuatan persaingan yang terjadi dalam tubuhnya. Superioritas yang berkembang pada akhirnya membawa iklim kemahasiswaan lebih mudah terpecah belah bilamana masalah bersama dan harus dicarikan solusinya secara bersama, tetapi karena merasa super dengan ego yang kuat masalah kampus takkan kunjung selesai.

Kedua, secara historis, Unpad dan isinya hanya meregulasi kader yang bergerak dalam bidang kemahasiswaan hanya sebatas regulasi sedangkan penyadaran akan sejarah keberadaan Kema Unpad masih sangat minim hingga masalah-masalah actual Unpad sekarang ini secara proses kerja tidak kunjung selesai dikarenakan masalah yang ada merupakan hasil efek dari masalah-masalah terdahulu, dimana dalam kehidupan, termasuk dalam dunia kampus masalah-masalah yang ada merupakan efek domino dari masalah yang terdahulu. Seperti dalam proses pembentukan Keluarga Mahasiswa Unpad sendiri. Proses yang panjang dengan dinamisasi internal-eksternal, mulai dari siapa yang berwenang untuk memimpin, bagaiamana konsep dan cara kerja, sampai ke masalah intervensi pihak luar yang berupaya untuk mengacaukan terwujudnya sebuah tampilan dan tatanan baru yang akan merepresentasikan mahasiswa seutuhnya dan terlepas dari berbagai macam pengaruh yang menjadi momok terhadap independensi mahasiswa. Lalu apa hasil dari proses dinamisasi panjang dalam proses pembentukan Keluarga Mahasiswa tersebut? Memang apa yang diharapkan oleh mahasiswa terbentuk, tetapi karena proses yang panjang tadi ternyata transfer informasi kepada yang lebih muda agak sedikit terlupakan dan melihat realitas lapangan pembentukan itu sebenarnya belum mencapai titik final. Ternyata dalam tubuh Keluarga Mahasiswa ini masih memiliki pemahaman yang belum sama semuanya serta apa yang menjadi substansi pembentukan Keluarga Mahasiswa ini belum menyeluruh sehingga dalam rangkaian penataan dunia kemahasiswaan di Unpad ada hal yang terputus antar generasi.

Lalu apa yang harus dilakukan mahasiswa sebagai masyarakat – kalau kita menarik pengertian Keluarga Mahasiswa adalah sebuah Negara dengan pemerintahan dan strukturnya – agar tidak ada lagi kultur yang menjadikan kekuatan mahasiswa Unpad lemah dan agar tidak lagi ada hal yang terputus dalam sejarah Keluarga Mahasiswa Unpad? Mungkin diperlukan kesadaran akan keberadaan dan apa fungsi keberadaan itu. Dengan cara inilah, kita bisa tahu kelemahan dan kelebihan sehingga ada itikad untuk bisa memperbaiki tatanan yang sudah ada menuju tatanan ideal sesuai yang kita inginkan. Setelah itu apa? Dengan sadar akan keberadaan, akan timbul rasa saling memiliki dan dengan memiliki itu sebagai kesatuan kolektif, mahasiswa benar-benar menjadi mahasiswa yang berani keluar dari zona nyamannya dan berani menembus batas kejumudan yang mengungkung pola pikir sehingga tidak bisa lagi bergerak dalam ranah kreatifitas dan inovasi mahasiswa. Lalu, dunia mahasiswa yang diimpikan adalah dunia harmonis dimana antara satu dengan yang lain bergerak sinergis demi kemaslahatan bersama tanpa ada tekanan-tekanan dari dalam maupun dari luar. Jadi, mulailah dengan SADAR…

Hidup Mahasiswa!!!

by: Yandri Rama P. (Ketua Umum BPM Kema Unpad)

 





Because We Are Legislator

28 07 2009

“Because We Are Legislator” adalah nama acara upgrading BPM se-Unpad yang diadakan d Padasuka, Sumedang tanggal 11 – 12 Juli 2009.

Susunan acara pada hari pertama ada
1. Isu Kemahasiswaan
2. Kelegislatifan
3. Focus Group Discussion

Susunan acara pada hari kedua ada
1. Team Building
2. Legal Drafting
3. Kesekretariatan

ISU KEMAHASISWAAN
Pembicara materi ini adalah Kang Riwansyah. Materi ini intinya membahas tentang lembaga kemahasiswaan dan isu-isu yang beredar di lingkungan kampius.

KELEGISLATIFAN
Pembicara materi ini adalah Kang Deny Rachmat. Materi ini membahas tentang arti dan fungsi legislatif itu sendiri beserta masalah-masalah yang terjadi di organisasi legislatif.

FGD (FOCUS GROUP DISCUSSION)
Acara ini adalah acara PUNCAK, yang dibawakan oleh Kang Fajar, dimana kita menimba suatu informasi dari tiap kelompok, serta membahas suatu wacana untuk mencari kesimpulannya.

TEAM BUILDING
Ini adalah acara yang berisi games seru untuk menguji kekompakan, kebersamaan, kepercayaan, dan lain-lain.

LEGAL DRAFTING
Materi ini dibawakan oleh Kang Bilal Dewansyah, dimana membahas tentang hukum, undang-undang dan peraturan perundang-undangan.

KESEKRETARIATAN
Pembicara kali ini adalah Pak Soni. Materi ini membahas tentang Sistem Kesekretariatan dalam Kegiatan Kemahasiswaan.








Follow

Get every new post delivered to your Inbox.